Master Ice Breaker indonesia

ICE BREKER

Dalam sebuah pelatihan, setiap peserta memiliki motivasi yang bervariasi dalam mengikuti sebuah pelatihan. Ada yang ingin menguasai  bidang tertentu, ada yang ingin mempertajam ketrampilan, ada yang sekedar berkumpul bersama teman, dan ada yang mempunyai alasan keterpaksaan.
Semua alasan tersebut berdampak terhadap cara menanggapi pembicara dan merespon setiap aktivitas dalam pelatihan. Ada yang bersemangat namun tidak sedikit juga yang cuek dan acuh tak acuh bahkan kaku. Hal ini seringkali menjadi penghambat dalam sebuah pelatihan sehingga diperlukan sebuah “ice breaker” yang berfungsi untuk menghancurkan penghambat tersebut.

Ice Breaking padanan dua kata Inggris yang mengandung makna “memecah es”. Istilah ini sering dipakai dalam training dengan maksud menghilangkan kebekuan-kebekuan di antara peserta latihan, sehingga mereka saling mengenal, mengerti dan bisa saling berinteraksi dengan baik antara satu dengan yang lainnya. Hal ini dimungkinkan karena perbedaan status, usia, pekerjaan, penghasilan, jabatan dan sebagainya akan menyebabkan terjadinya dinding pemisah antara peserta yang satu dengan yang lainnya. untuk melebur dinding-dinding penghambat tersebut, diperlukan sebuah proses ice breaking.

Ice breaking adalah sebuah sesi untuk memberikan suasana yang cair dan akrab di antara peserta dengan fasilitator. Sesi ini menjadi momen untuk kontrak belajar dan komitmen bersama.”

Secara garis besarnya, ice breaking ada 2 cara, yaitu soft ice breaking (the power of wordsdan hard ice breaking (the power of motion). Ternyata ada dasarnya nih, mengapa butuh ice breaking. Bang Rahul mengemukakan hasil sebuah penelitian yang menyatakan:

Rata-rata setiap orang dewasa dapat berkonsentrasi pada satu fokus tertentu hanya 15 menit. Setelah itu konsentrasinya tidak bisa lagi fokus[1].

Tujuan ice breaking itu ya sehubungan dengan “pencairan suasana”. Bagaimana caranya supaya para peserta merasa lebih santai, saling kenal satu sama lain, membuat para peserta sepakat dengan kontrak belajar, menghilangkan blocking dan kesombongan, dan menghibur.

Mengapa para peserta perlu dihibur? Karena kebanyakan manusia lebih senang “dihibur ketimbang diedukasi”.

Untuk menyepakati kontrak belajar saja misalnya, disampaikan dengan cara menyenangkan. Diakhiri dengan pertanyaan, “Sepakat/Setuju?” Lalu kita minta audiens menjawab, “Bungkus!”

Ice breaker with public speaking memiliki 3 fungsi utama, yaitu untuk memberikan informasi atau pesan, mengajak atau memengaruhi peserta untuk melakukan sesuatu, dan untuk menghibur.

Sampai sini saya paham. Nah masuk bagian penjelasan mengenai macam-macam soft ice breaking saya mengernyitkan kening. Bagaimana tidak: pantun, stand up, jokes, dongengsulap, story telling … semuanya bukan keahlian saya. Eh kalau cuma suruh berdiri sih bisa, tapi kan berdirinya harus sembari ngapa-ngapain kan.

Apalagi bagian hard-nya: moving activity, dancing, dan clap. Lha sayanya bukan orang yang nyaman dengan moving activity di tempat terbuka sebenarnya. Tapi yang namanya belajar, ya harus mengusahakan ya, yang mana yang paling bisa dilakukan.

Harus diingat, sebagai penampil 3V sangat berpengaruh. VISUAL (55%): bagaimana kita tampil, VERBAL (7%): apa yang kita katakan, dan VOKAL (38%): bagaimana kita bersuara. Rahasia “key of speaking” ini bersumber dari hasil penelitian ekstensif tentang komunikasi yang dikemukakan oleh Albert Mehrablan, seorang profesor dari UCLA pada tahun 1972.